Ditinggal "Pergi", Ini Tanggapan Orang Terdekat Nusyirwan

Ditinggal "Pergi", Ini Tanggapan Orang Terdekat Nusyirwan

Jenazah Calon Wakil Gubernur Kaltim, Nusyirwan saat dimasukkan kedalam mobil ambulans untuk disemayamkan, Jumat (23/2). Foto: ina

SAMARINDA,bekantan.co - Sesekali tim dokter mencoba menyadarkan namun tak berhasil. Upaya itu sudah dilakukan sehari sejak Nusyirwan Ismail operasi kepala, Jumat (23/2) malam lalu.

Paska operasi tersebut Calon Wakil Gubenur Kaltim 2018 ini di knockdown (tidurkan tanpa sadar atau diistirahatkan otak). Sudah berkali-kali tim medis berusaha menyadarkan kembali. Namun tidak membuahkan hasil hingga Nusyirwan dinyatakan meninggal dunia.      

Lebih dari dua jam, 8 dokter spesialis berhasil melakukan trepanasi atau kraniotomi di bagian kepala Nusyirwan. Trepanasi atau kraniotomi adalah tindakan membuka tulang kepala untuk dilanjutkan dengan pembedahan definitif. Tim dokter sudah berhasil mengeluarkan pendarahan dari otak. Namun pembengkakan otaknya tak bisa diturunkan. Meski semua darah sudah berhasil disterilkan.

“Memang pembengkakan otak tak berkurang selama tiga hari terakhir. Kita sudah berusaha turunkan. Namun tak berhasil. Mulai Minggu (25/2) malam dan Senin (26/2) pagi. Otaknya tidak berfungsi lagi. Setelah kita obrolkan dengan pihak keluarga. Beliau akhirnya mengembuskan napas terakhir pukul 12.32 Wita,” terang Dirut RSUD AW Sjahranie, Dr Rachim Dinata Marsidi.

Sebelumnya, Nusyirwan didiagnosa mengalami pendarahan otak (brain hemmorhage) akibat pembuluh darah pecah paska jatuh pingsan di Muara Muntai, Kukar, Jumat (23/2) lalu. Diagnosa itu, kata Rachim menjadi kesimpulan tim medis paska tindakan di ruang CT Scan. Nusyirwan dirontgen di bagian kepala.

Pada malam itu juga, wakil wali kota Samarinda non aktif ini langsung dioperasi untuk mengeluarkan cairan darah dari otak. Paska operasi tiga hari lalu hingga kemarin, Nusyirwan tak sadar hingga dijemput ajal.  Kepergiannya menyisahkan kesediahan bagi seluruh masyarakat Kaltim. 

TANGIS PECAH

Isak tangis di lantai dua RSUD Abdul Wahab Sjahranie memecah keheningan. Tangis itu mengiringi kepergian calon wakil gubenur Kaltim 2018 pendamping Sofyan Hasdam ini.

Nusyirwan berhenti bernapas saat dirinya masih terisolasi di ruang ICU-ICCU, Instalasi Perawatan Intensif (IPI) Sakura. Kabar meninggalnya, menggema ke seluruh Kaltim. Semua pengunjung berdatangan ke RSUD. Sepanjang ruang Sakura dipenuhi para kerabat. Jajaran pejabat pemkot dan keluarga.

Raut wajah sedih terpancar dari ibunda Nusyirwan Hj Siti Zaenab Darjad yang diboyong keluar dari ruang Sakura menuju lantai satu. Setelah itu disusul istrinya, Sri Lestari. Matanya terlihat lebam berkaca-kaca. Ia berulang kali melontarkan kata maaf atas kepergian suami tercintanya. Ia juga menolak diwawancara oleh awak media.

Saat itu jenazah almahrum masih di dalam ruang isolasi. Tak lama berselang, jenazah Nusyirwan Ismail keluar didampingi jajaran tim medis dan penjabat pemkot. Jenazahnya ditutupi selimut kuning. Dibaringkan di atas tempat tidur. Lalu didorong menuju lobi rumah sakit. Ambulans sudah menunggu. Nusyirwan dibawah ke rumah duka di Jalan Basuki Rahmat I pukul 13.20 Wita. Hari ini pukul 10.00 Wita, jenazah alhmarum akan dikebumikan di Kuburan Muslim Jalan Abdul Hasan.

Sebelum penguburan, jenazah akan dimandikan pukul 07.00 Wita. Setelah itu pelepasan dari rumah duka pukul 08.30 Wita. Dilanjutkan menuju Balai Kota Samarinda untuk pelepasan terakhir. Dan disalatkan di Masjid Raya Darussalam sebelum dimakamkan. Nusyirwan akan dimakamkan di samping kubur ayahnya, H Ismail.

 

PERMOHONAN MAAF BU SRI LESTARI

Melalui rilis tertulis, Sri Lestari menyebut kematian adalah pintu, dan semua orang pasti akan melewatinya. Mewakili keluarga besar, Bu Lis –sapaan akrabnya- memohon maaf yang sebesar-besarnya, bilamana selama hidup beliau ada kekhilafan dan kesalahan yang dilakukan oleh almarhum, dari lubuk hati yang paling dalam, sudi kiranya berkenan untuk dimaafkan.

Kepergian Nusyirwan, tak disangka oleh siapapun pun, termasuk pihak keluarga. Muhammad Dedi Pratama, putra sulungnya, menyebut tak ada pesan spesifik di detik akhir kematian ayahnya. Hanya, jauh sebelum beliau jatuh sakit, Nusyirwan selalu memberi pesan agar jangan lupa salat dan selalu jujur. Jangan curang. 

“Selalu beliau sampaikan agar berbakti kepada orang tua,” ungkapnya. 

Kesedihan juga meliputi seluruh tim paslon Annur. Sofyan Hasdam menyampaikan rasa duka mendalam atas kepergian sahabat yang sedang berjuang bersamanya menuju pembangunan Kaltim. 

“Kami sedang berjuang bersama-sama. Tapi akhirnya beliau meninggalkan kita semua,” ungkap Hasdam dengan berkaca-kaca.

Pria yang juga dokter saraf ini, tak menyangka kematian adalah akhir dari keluhan sahabatnya saat di Muara Muntai, kala itu. Saat itu Nusyirwan sempat mengeluh pusing dan sakit kepala.

“Kalau ada isyarat bahwa beliau sakit atau pusing sebelum berangkat, pasti saya larang,” ucapnya. 

Nusyirwan meninggalkan seorang ibu dan seorang istri. Juga satu orang putra dan satu orang putrid. Nusyirwan juga meninggalkan dua orang cucu dari masing-masing anaknya. (ina/nus)