Wajib Ditiru, Samarinda Dirikan Enam Rumah Ibadah di Satu Lokasi

Wajib Ditiru, Samarinda Dirikan Enam Rumah Ibadah di Satu Lokasi

 

SAMARINDA,bekantan.co - Rencana Pemkot Samarinda membangun Religi Center belum bisa dilakukan tahun ini. Proyek tersebut hendak disosialisasikan dulu dengan semua pemuka agama Kota Tepian.

Proyek di atas lahan sekitar enam hektare itu akan dikelola Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Samarinda, dan dibangun Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim). Kepala Kesbangpol Samarinda, Tejo Sutarnoto mengaku akan mengumpulkan dulu semua pemuka agama untuk menyosialisasikan proyek di Jalan Ring Road tersebut.

Diantara pembahasan adalah mempertanyakan kesediaan masing-masing komunitas agama membangun sendiri tempat ibadah. “Karena dalam usulan anggaran belum dibantu pemerintah. Makanya pak wali beri kebijakan untuk enam agama itu, kalau ada anggaran sendiri, bisa dibangun,” katanya, Selasa (20/3/2018).

Kalau komunitas enam agama itu sepakat, pihaknya tidak serta merta langsung mengiyakan. Tejo akan meminta Detail Engineering Design (DED) terlebih dulu. DED itu tentu menyesuaikan dengan luasan lahan yang sudah diberikan. Rinciannya Protestan 5.025 meter persegi, Katolik 4.670 meter persegi, Hindu 2.893 meter persegi, Budha 2.605 meter persegi, Kong Hucu 1.952 meter persegi dan Islam 13.335 meter persegi. “Islam memang diberi lebih luas agar masyarakat sekitar juga bisa menggunakan fasilitas ibadahnya,” tutur Tejo.

Selain itu, DED juga akan diteliti lagi. Jangan sampai katanya pembangunan rumah ibadah tidak menyediakan ruang parkir. “Terus kantor administrasinya. Lalu tempat itu dekat dengan perkampungan, jadi apakah diperlukan juga pengamanan seperti pagar,” jelasnya. 

Sampai saat ini pihaknya mengaku belum tahu konsep bangunan dari masing-masing agama. Seperti arsitektur dan sebagainya. Kemudian status lahan tersebut apakah nanti berstatus pinjam pakai atau bentuk lain. “Kata pak wali soal itu nanti sambil berjalan, yang penting mereka siap anggaran silakan bangun,” tambah Tejo.

Religi Center sendiri kelak dipersiapkan sebagai ikon baru ibu kota setelah Islamic Center. Bahkan ditargetkan menjadi wisata religi semua agama. Namun yang perlu diperhatikan, Religi Center harus bisa mencakup semua golongan atau komunitas agama. “Misalkan yang Islam, jangan sampai bangun masjid untuk kalangan NU atau Muhammadiyah saja. Itu juga akan kami sampaikan ke pemuka semua agama saat rapat nanti,” tutup Tejo. (Ina/nus)