Tolak UU MD3, Ini Kondisi Mahasiswa Saat Bentrok Dengan Polisi

Tolak UU MD3, Ini Kondisi Mahasiswa Saat Bentrok Dengan Polisi

Ratusan mahasiswa saat hendak memaksa masuk untuk bertemu anggota DPRD Kaltim

SAMARINDA, bekantan.co - Aksi mahasiswa menolak Undang-Undang MPR, DPR, DPRD, DPD (UU-MD3) didepan gedung DPRD Kaltim, Karang Paci , berakhir ricuh, Senin (5/3/2018).

Ada 5 mahasiswa jadi korban kekerasan polisi. Andi Muhammad Akbar (21), tertembak dibagian lengan kanan. Akibat tembakan itu Akbar mengalami luka memar dan bolong dihajar peluru karet.

Sementara empat lainnya di pukul menggunakan pentungan warna hitam. Melinda (19) terkena pentungan di bagian pelipis mata. Sementara Dedy (20) terkena di bagian punggung belakang. Begitu juga dengan Revi (17) dan Julfi (18). Keempatnya mahasiswa Hukum Untag mengalami luka lebam.  Usai bentrok, kelima mahasiswa ini langsung visum di RSUD AWS.

Andi Muhammad Akbar, menceritakan kronologis kejadian. Aksi penolakan UU MD3 ini dibagi dua sesi. Sesi pertama, dari pukul 10.00 wita sampai 12.00 wita. Kemudian dilanjutkan pukul 13.00 wita sampai 15.00 wita.

Aksi pertama berjalan lancar dan damai. Masing-masing lembaga yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pejuang Demokrasi (GMPD) menyampaikan orasi politik secara bergantian.

DITEMBAK. Ketua BEM Fisip Universitas Mulawarman Samarinda, Andi Muhammad Akbar tertembak peluru karet dibagian lengan kanan. Aksi penolak UU MD3 ini berujung ricuh.

Ricuh baru dimulai saat aksi kedua. Awal ricuh, kata Akbar dipicu dorong-dorongan antar polisi dan mahasiswa sekitar pukul 13.45 Wita.  Saat itu, polisi langsung menyemprot water canon. Massa terpaksa berlari mundur dari pintu gerbang ke Jalan Teuku Umar. 

 Tapi polisi mengejar dan menangkap beberapa dari mereka.  Mahasiswa yang ditangkap dibawah masuk ke areal gedung DPRD Kaltim. “Disitu mereka disiksa, dipukul pakai pentungan, diinjak,” ungkap Ketua BEM Fisip Unmul kepada Sapos usai bentrok.   

Melihat teman disiksa, beberapa mahasiswi (Perempuan) berusaha melerai. Namun, lanjut Akbar para mahasiswi itu pun dipukul. “Itu, Melinda (19) kena pentungan di bagian pelipis mata, padahal dia melerai,” ucapnya kesal.

 Dari situ, beberapa dari mereka masuk ke areal gedung berniat membantu temannya yang ditahan polisi. “Setelah kami jemput di dalam. Ternyata saya ditembak pakai peluru karet. Saya dalam kondisi tenang. Kami melawan karena sebagian teman lainnya di sekap,” terang Akbar.

Menerima perlakuan tak menyenangkan, para mahasiswa ini mengecam dan menyesalkan aksi represif polisi. Plt Wakapolresta Samarinda, AKBP Rino Eko menyebut mahasiswa memaksakan kehendak bertemu anggota DPRD Kaltim. Padahal para anggota dewan sudah menyampaikan jadwal pertemuan yang diagendakan pada 12 Maret mendatang. “Mereka (Mahasiswa, Red) ingin tetap bertemu,” ungkapnya. 

Karena tak bisa ditemui, muncul aksi anarkis dari mereka (mahasiswa, Red) dengan pembakaran ban dan pelemparan. “Kita sudah berusaha untuk memediasi namun tidak berhasil. Akhirnya kita melakukan penindakan,” tuturnya. 

“Sebetulnya, tidak ada niatan kita untuk menyakiti para mahasiswa. Namun mahasiswa memaksa kehendak. Mau tidak mau kita mengambil tindakan pencegahan,” sambung Rino.(ina/sas)

 

Video : Menegangkan! Ricuh Saat Mahasiswa Demo Tolak UUMD3 di depan Gedung DPRD Kaltim