Tiongkok Mulai Membidik Samarinda Terkait Pengelolahan Sampah

Tiongkok Mulai Membidik Samarinda Terkait Pengelolahan Sampah

 

SAMARINDA,bekantan.co - Pemkot tidak boleh lagi kecolongan janji manis investor asing. Pasalnya, setiap kali investor datang, kerja sama selalu batal karena berbagai alasan. Kali ini investor asal Tiongkok yang berminat investasi pengolahan sampah menjadi energi listrik.  

Perusahaan tersebut adalah Shenwu (Guangdong) Green Energy Technology yang bergerak di bidang pengolahan energi. Asisten II Setkot Bidang Pembangunan, Endang Liansyah menyebut nilai investasi yang digelontorkan mencapai USD 300 juta atau setara Rp 4,5 triliun. “Itu investasi murni, 100 persen dari mereka yang keluarkan,” katanya.

Kewenangan pemkot hanya memberikan izin serta menentukan lokasi mana yang bakal dibangun perusahaan. Saat ini fokus sementara ada di Samarinda Seberang. “Nah, titik-titiknya dimana itu yang masih disurvei,” tambahnya.

Nantinya perusahaan tersebut akan memungut semua sampah di ibu kota. Adapun volume sampah ibu kota mencapai 800 ton per hari. Perusahaan tersebut diklaim membutuhkan sampah dengan jumlah demikian, bahkan lebih. Dengan kata lain, kebutuhan sampah untuk didaur ulang sesuai kebutuhan investor dianggap mencukupi.

Sampah itu nantinya bakal diolah menjadi minyak olahan bahkan memenuhi kebutuhan listrik. Belum diketahui apa keuntungan bagi daerah. Yang jelas lanjut Endang, pihaknya meminta perusahaan agar kembali bersurat dengan melampirkan kebutuhan dan lainnya. “Kalau bisa secepatnya. Saya bilang kirim surat lagi ke kami, apa yang ditawarkan dan perlu apa,” jelas Endang.

Namun pemkot juga punya syarat. Yakni tidak ingin terlibat apapun dalam pengelolaan bisnisnya. Termasuk memasukkan anggaran sebagai suntikan modal hingga urusan polemik lahan dengan warga. “Untuk sementara mereka menyanggupi. Mereka hanya minta arahan dimana lokasi yang tepat dan sesuai,” tukas Endang.

Pertanyaan pun muncul. Apa yang melatarbelakangi perusahaan asal Tiongkok tersebut tertarik berinvestasi di Kota Tepian. Usut punya usut batu bara Samarinda menjadi magnet investor tersebut. Alasannya, perusahaan juga butuh batu bara sebagai bahan baku pengolahan.

Meski pun kadarnya cukup rendah, dijelaskan mantan kepala BPBD Samarinda ini, kawasan Samarinda Seberang memang terdapat cadangan batu bara. “Cuma rendah. Kalau di sekelilingnya ada pasir berarti kadarnya rendah, tapi kalau dikelilingi bebatuan besar, itu kalorinya tinggi. Di (Samarinda, Red) Seberang itu banyak pasirnya,” terang Endang.

Kendati demikian pemkot tetap harus berhati-hati. Hingga kini terdapat 13 Penanam Modal Asing (PMA) yang berinvestasi di Samarinda,  namun baru terealisasi hingga Rp 7 triliun dari target Rp 9 triliun. Adapun modal yang dibawa hanya Rp 3,2 triliun dari total investasi. Meski ada tren positif namun tidak signifikan.  “Banyak juga yang tidak jadi. Tapi itu karena pemkot diminta sediakan lahan, penyertaan modal juga, ya tidak bisa,” ujarnya mengakhiri. (Ina/nus)