Oknum Polisi Ini Diduga Terlibat Pertambangan Ilegal

Oknum Polisi Ini Diduga Terlibat Pertambangan Ilegal

Sebuah kendaraan evcavator berusaha menutup lubang galian bekas tambang batu bara di hadapan Lurah Lempake Nur Haryanto, Senin (26/2)

SAMARINDA, bekantan.co - Tambang batu bara yang mengobok-obok lahan pemakaman di Kelurahan Lempake, Samarinda Utara, Kaltim akhirnya ditutup, Senin (26/2) lalu. Satu unit ekskavator menutup lubang galian sekitar pukul 12.40 Wita. Operator alat berat tersebut menguruk timbunan tanah menggunakan bucket, lalu perlahan mulai menutup lubang sedalam 5 meter.

Penambangan ilegal ini sempat menggegerkan warga RT 03, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, karena masuk di dalam areal kuburan. Tidak hanya itu, lokasinya juga hanya berjarak puluhan meter dari rumah warga. Padahal sesuai aturan minimal harus 500 meter dari permukiman.

Ketua RT 3, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, Edy Siswoyo mengatakan penutupan ini dilakukan setelah warga melakukan protes. “Ya syukurlah, pihak penggali akhirnya menutup kembali,” ungkap disela penutupan.

Kendati demikian, Edy membantah beredar kabar 10 kuburan yang terkena galian. Informasi tersebut dia dapat setelah memeriksa langsung di lapangan. Ternyata tidak ada satupun makam yang terbongkar. “Jadi titik galian itu memang masuk wilayah kuburan tapi di lahan yang masih kosong, jadi tidak ada kuburan yang kena” ungkapnya. 

 

 

Lurah Lempake Nur Haryanto juga juga turut menyaksikan penimbunan kembali lubang tambang di kawasan kuburan muslim itu. Dalam penimbunan ini kata dia, pihak kepolisian yang mengkoordinir sedangkan warga mengawasi dalam proses penimbunannya.

Semua pihak terkait dilibatkan dalam penimbunan ini. Baik itu rukun kematian, ketua RT, dan warga di sekitar kuburan itu. Nur Haryanto juga membantah titik galian mengenai lahan kuburan. Hanya ruang kosong di wilayah kuburan muslim. Dan kebutulan titik itu ada potensi batu bara. “Dan itu tidak ada izin dan melanggar aturan. Kuburan adalah tempat suci,” tuturnya.

Sebelumnya,  penambangan batu bara liar di Jalan Poros Kebon Agung, RT 3, Kelurahan Lempake ini membuat warga diluar RT 3 yakni warga RT 4, RT 7 dan RT 8 juga ikut marah. Bahkan warga yang tinggal tak jauh dari lokasi makam juga ikut ngeluruk ke markas Polsek Samarinda Utara. Mereka mengancam akan membakar dua unit alat berat ekskavator PC 200 yang diparkir tak jauh dari lokasi makam. Aksi anarkis itu dapat diatasi aparat kepolisian setelah melakukan mediasi dengan warga. “Yang nambang dan punya alat berat itu polisi juga. PN namanya (nama diinisialkan),” tutur Bendahara Rukun Kematian TPU Kebon Agung, Maslakun kepada awak media ketika berada di markas Polresta Samarinda bersama warga lainnya.

Dari informasi yang dihimpun Bekantan.co, area tambang yang berlokasi di kawasan itu diduga milik salah satu oknum anggota polisi berpangkat Ajun Inspektur Dua (Aipda) yang berdinas di Polsek Samarinda Utara.

Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Vendra Riviyanto mengatakan oknum polisi tersebut sudah menjalani pemeriksaan oleh Seksi Propam. Namun pemeriksaan tersebut baru sebatas memintai keterangan secara lisan. “Karena namanya disebut oleh warga, jadi dimintai keterangan,” kata Vendra.

“Nanti kita lihat hasilnya. Kalau memang benar dia (PN, Red) yang melakukan aktivitas penambangan itu, maka akan dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan dan menentukan sanksi disiplinnya,” sambungnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pertambangan Umum Dinas ESDM Kaltim, Goenoeng Joko Hadi mengatakan, tambang baru bara di sekitaran kawasan itu memang banyak ilegal termasuk di sekitaran TPU itu. Karena ilegal, kata Goenoeng, kewenangan Dinas ESDM hanya menghentikan operasi di lapangan. Setelah itu, membuat laporan ke polisi untuk proses penyelidikan. “Tambang ilegal kita serahkan ke penyidik. Kami sudah berkali-kali tinjau ke Lempake itu,” ungkapnya.

 “Pokoknya tambang ilegal itu ranah polisi. Kecuali mereka ada izin tapi menyalahi aturan maka izin bisa kami cabut,” tegasnya.

Pjs Wali Kota Samarinda Zairin Zain menyebut penambangan yang menyerobot lahan pemakaman adalah tindakan tidak bermoral. “Ini tindakan tidak bermoral. Menambang di area pemakaman. Jelas-jelas ada pagar pembatas. Seharusnya tidak boleh diganggu. Dibongkar dan ditinggal begitu saja,” kata Zain. (ina/nus)