Kemarau di Musim Hujan???

Kemarau di Musim Hujan???


 

SAMARINDA,bekantan.co - Beberapa hari belakangan Kota Tepian disengat cuaca panas terik. Tingginya temperatur udara dan fenomena alam ini biasa terjadi pada pada bulan-bulan puncak musim kemarau.
Namun hal itu dibantah Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Samarinda, Sutrisno, Selasa (13/3/2018).
Sutrisno mengatakan secara umum Kaltim masih musim penghujan. Musim penghujan dimulai dari Februari, Maret ada break. April-Mei puncak curah hujan lagi. Awal musim kemarau, Kaltim secara umum jatuh Mei-Juni 2018.“Meski terik, tapi potensi hujan masih ada,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Sutrisno mengatakan, dari monitoring pihaknya sepanjang hari memang terik menyengat. Ada beberapa stasiun yang warnanya kuning. Warna itu menandakan dalam beberapa hari ke depan belum ada hujan.  “Artinya 6-10 hari tidak ada hujan terus menerus,” terangnya.
Panas terik tersebut disebabkan, pembentukan awan kurang efektif, angin tiupannya kencang di bagian atas. Sehingga menyapu semua awan yang terkumpul. Memang banyak faktor yang pengaruhi pembentukan awan. “Tapi kalau seharian panas keesokan hari bisa hujan,” imbuhnya.
Dikatakannya, ada beberapa wilayah di Kaltim yang kemarau dan penghujannya tidak terlihat. Jadi bisa dikatakan sepanjang tahun itu ada curah hujan dan ada juga musim hujannya seperti Samarinda. Untuk Samarinda, musim kemaraunya sangat pendek hanya 3 sampai 4 bulan saja.
Kenapa demikian, karena pengaruh global el-nino pemanasan muka laut tinggi dampaknya pengurangan curah hujan untuk wilayah Indonesia Kaltim terkena dampak. Musim kemarau normal tidak pengaruh el nino dan la nina.
“Kalau Samarinda biasanya kemarau di bulan Juni, Juli, Agustus. Itu bulan keringnya. Tapi sekarang masih bulan Maret jadi belum,” tutupnya. (Ina/puu)