Jatah 30 Persen, Partisipasi Politik Perempuan Masih Minim di Kaltim 

Jatah 30 Persen, Partisipasi Politik Perempuan Masih Minim di Kaltim 

SAMARINDA,bekantan.co - Memang harus diakui keterlibatan perempuan dalam urusan politik di Samarinda masih jauh dari kuota 30 persen. Hal itu terbukti dengan tingkat keterwakilan perempuan baik di instansi pemerintah, DPRD maupun partai politik masih sedikit. Hal ini disampaikan Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Samarinda, Tejo Sutarnoto, Jumat (9/3/2018) 

Tejo mengatakan partisipasi perempuan dalam politik hanya berkisar 15-20 persen saja. Pihaknya terus mendorong agar rekrutmen dan kaderisasi harus di dasari bagi kaum perempuan.  Didalam keanggotaan legislatif baik DPR, DPRD harus 30 persen. Ini tantangan buat kaum perempuan untuk memiliki kapasitas guna berlibat aktif dalam dunia politik. Partainya politik adalah wadah politik tertinggi. 

"Kita juga mendorong agar partai bisa memberikan kaderisasi. Dengan begitu aturan dalam penentuan kuota bisa terpenuhi. Untuk 2019 bersamaan dengan Pilpres kaum perempuan harus menyiapkan diri. Terutama kemampuan diri dan finansial," ungkapnya kepada Bekantan.co

Dari perubahan memang terjadi kenaikan partisipasi politik perempuan tapi tidak signifikan. Analisis pihaknya dalam internal parpol kaderisasi belum berjalan efektif. Dengan demikian perlu disiapkan kaderisasi oleh parpol. Juga sosialisasi kepada masyarakat. 

Disisi lain ketertarikan kaum perempuan terhadap politik juga masih kurang. Sehingga memang agak susah. Makanya harus dibangun. Karena sistem politik harus dibenahi. Persepsi dunia politik itu harus banyak uang itu tidak benar. Makanya harus ada penyadaran bagi masyarakat.

Jika dibiarkan maka dampak yang ditimbulkan akan jelek. Idealnya partisipasi finansial masyarakat. Contoh Pilpres Obama di AS  Saat ini memang ada kecenderungan dunia politik tidak memberikan kontribusi apapun dalam pembangunan sehingga orang jadi apatis, tingkat golput meningkat tinggi. Dan seterusnya. 

Sementara itu ketua Forum Solidaritas Perempuan Kaltim Eva menyebut minimnya partisipasi politik perempuan karena ruang keterbukaan bagi perempuan masih minim. Selain itu perempuan disibukan dengan urusan-urusan relatif jauh dari panggung politik. "Sehingga memang sedikit sulit. Padahal keterlibatan perempuan sangat penting dalam memberi warna politik Kaltim," ucap Eva. (Ina/nus)