Industri di Kaltim Serba Menurun, TDA Samarinda Katakan Bisnis Kuliner Semakin Mewabah

Industri di Kaltim Serba Menurun, TDA Samarinda Katakan Bisnis Kuliner Semakin Mewabah

SAMARINDA, bekantan.co - Pertumbuhan produksi industri makro dan mikro di Kalimantan Timur (Kaltim) sama-sama menurun pada 2017. Hal ini diyakini lantaran pertumbuhan ekonomi yang melamban.

Berdasar hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, dari tiga produksi industri pengolahan besar dan sedang, dua diantaranya menurun (y-on-y). Di antaranya industri bahan kimia yang turun 1,44 persen, kemudian industri kayu, anyaman dan sejenisnya juga turun 2,92 persen. Namun industri makanan justu naik 3,63 persen. Akan tetapi secara akumulasi, semua komponen turun 0,15 persen (y-o-y). “Itu semua industri yang non migas,” terang Kepala BPS Kaltim, Habibullah. 

Pihaknya juga membeberkan pertumbuhan pengolahan industri mikro dan kecil (IMK) Kaltim naik 37,69 persen (y-o-y). Alasannya karena banyak proyek infrastruktur pemerintah yang rampung di akhir tahun anggaran. Menurut Habib, infrastruktur yang mumpuni dianggap mengurangi biaya produksi dan memudahkan pelaku UKM menjual dagangan hingga luar daerah. Ada empat jenis industri pengolahan yang menurutnya mengalami kenaikan. Di antaranya industri kulit (345,83 persen), industri pengolahan (82,24 persen), industri barang galian bukan logam (81,68 persen) dan industri tekstil (31,17 persen). 

Adapun industri yang turun kurang dari 10 persen juga ada empat. Seperti industri alat angkut turun 62,5 persen, industri barang logam 50,69 persen, industri karet dan barang karet 25,55 persen, dan industri kayu, anyaman dan sejenisnya turun 16,05 persen. “Industri alat angkut karena jumlah penumpang juga alami penurunan,” terangnya. Bisa jadi karena masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi atau memakai jasa kendaraan berbasis online. 

Namun turunnya industri pengolahan makanan tidak sepenuhnya diyakini. Ketua Tangan Di Atas (TDA) Samarinda, Juni Ananda mengatakan bisnis kuliner justru mulai menggeliat. Juni mengungkapkan dari 300 anggota TDA, 60 persennya bergelut di bisnis kuliner. Malahan ia menyebut Samarinda menjadi magnet bagi pengusaha kuliner untuk mengembangkan usaha ketimbang Balikpapan. “Balikpapan memang kota industri, tapi Samarinda ini kota jasa dan interaksinya lebih banyak. Otomatis konsumsi makanan juga lebih tinggi,” jelasnya. 

Alasan lain adalah sejumlah pengusaha kuliner lebih banyak membangun outlet baru di Kota Tepian ketimbang Kota Beriman. Dia mencontohkan salah satu pengusaha yang pada 2015 lalu hanya punya satu outlet. “2017 sudah ada tujuh outlet makanan. Artinya ada peningkatan kebutuhan dari masyarakat Samarinda dan ini tentu jadi peluang bisnis,” tambahnya.

Alasan lainnya adalah mulai meningkatnya pengusaha muda di sektor UKM, terutama bidang kuliner. Bahkan ada yang menjual secara tidak biasa dengan mengemas secara menarik untuk mengundang pasar. Pengemasan yang baik ini diyakini juga meningkatkan nilai produk tersebut. “Daya beli masyarakat semakin baik,” pungkasnya.(Ina/nus)