DPRD Ingatkan Pembangunan Hotel Primbez 

DPRD Ingatkan Pembangunan Hotel Primbez 

SAMARINDA, bekantan.co - Meski sudah mengantongi izin pembangunan hotel bersampingan Masjid Islamic Centre Jalan Slamet Riyadi, DPRD Samarinda tetap mewanti-wanti baik pemkot maupun investor agar tetap memperhatikan dampak sosial. Itu disampaikan karena kekhawatiran pihaknya terhadap gejolak yang muncul dimasyarakat dikemudian hari. Wakil Ketua Komisi I Suparno mengungkapkan,  pihaknya tetap mendukung pembangunan kota. Namun tetap memastikan aspek sosial untuk menghindari polemik.

“Kita dukung. Tapi ingat jangan tinggal masalah sosial. Harus selesai dulu,” ungkapnya, Rabu (28/3/2018).

Ya, kini investor pembangunan hotel dengan sepuluh lantai itu sudah mengantongi izin dari Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) dari Dinas Pariwisata Samarinda. Rencananya hotel tersebut berbasis syariah dan diberi nama Primebiz.  Hotel nantinya dikerjakan PT Wijaya Utama Lestari (PT WUL) tahun depan ini menelan biaya     Rp. 200 miliar.

Kepala Dinas Pariwisata Samarinda, Muhammad Faisal memastikan tidak ada lagi polemik dari pembangunan ini. Karena selain tanah menjadi kepemilikan tanah sendiri, hotel ini juga diberikan fatwa MUI lengkap dengan syarat pembangunan hotel syariah. 
“Sehingga tidak masalah,” tutur dia.

Sebelumnya pembangunan hotel ini sempat diadang penolakan. Namun bisa diredam konflik sosialnya setelah PT Wijaya Utama Lestari (WUL) selaku investor bersedia memenuhi semua persyaratan operasional hotel. PT WUL bersedia patuh pada Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Permenparekraf) 2 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah. PT WUL sudah mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB) sejak akhir tahun lalu.

Manajemen PT WUL mempresentasikan konsep dan fasilitas hotel yang akan dibangun. Kriteria hotel adalah syariah hilal 1 yang merupakan standar terbaik hotel syariah. Mengusung konsep moeslem frindly hotel dengan jumlah kamar 152. Hotel 10 lantai itu bakal menyediakan kolam renang dan mushola terpisah antara laki-laki dan perempuan. Disediakan pula tempat olahraga khusus untuk pria.

Wakil Wali Kota Nusyirwan Ismail, mengatakan Fasilitas SPA tidak ada. Jadi, implementasi bangunan hingga aksesoris hotel dipastikan bernuansa muslim. Hotel ini tidak akan menjual minuman beralkohol. Nusyirwan menjelaskan, IMB yang diterbitkan khusus hotel syariah. Investor diwajibkan untuk membangun buffer zone(zona penyangga) antara hotel dengan masjid dalam bentuk kanal atau taman. (Ina/nus)