Beratnya Jadi Petani di Ibu Kota, Alokasi APBD Sulit, Perbankan Tak Melirik

Beratnya Jadi Petani di Ibu Kota, Alokasi APBD Sulit, Perbankan Tak Melirik

 

SAMARINDA,bekantan.co - Lahan dikepung pertambangan bukan satu-satunya persoalan yang membuat nasib petani ibu kota Samarinda kian suram. Di sisi lain petani juga kesulitan mendapat tambahan modal karena tingginya bunga.

Padahal berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, nilai tukar petani (NTP) Kaltim tahun ini sebesar 97,45 persen. Angka itu naik 0,18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan persentase itu menunjukkan harga jual hasil pertanian meningkat meski tidak signifikan. Namun pemerintah tetap saja belum sepenuhnya tertarik pada sektor pertanian. Wali Kota Samarinda, Sjaharie Jaang mengutarakan, butuh waktu untuk merancang ekonomi melalui pertanian.

Hal ini terungkap saat beberapa petani meminta pemerintah mengalokasikan 10 persen APBD untuk pertanian. “Bidang pendidikan sudah 20 persen. Nantilah kami lihat. Hambatan petani itu akan jadi perhatian dan diperjuangkan maksimal,” katanya usai melantik pengurus Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Samarinda di Makroman, Senin (12/3/2018)  

Untuk memudahkan petani katanya tidak melulu lewat APBD. Bank konvensional bisa berperan memberikan pinjaman modal dengan bunga rendah. Yang menjadi perhatian Jaang adalah Bankaltimtara. Ya, bank berstasus milik daerah itu punya kewajiban mengerjakan hal itu. “Bankaltim kan banyak duit. Tinggal digelontorkan saja duit itu, lalu berikan bunga di bawah lima persen. Kenapa tidak bisa?” sindirnya. Argumennya adalah saham mayoritas Bankaltimtar masih dipegang oleh pemerintah sehingga punya otoritas. “Nanti itu akan dibicarakan dengan OJK dan OPD terkait sehingga hambatan petani itu bisa diperjuangkan maksimal,” lanjutnya.

Kadis Pertanian Samarinda, Ary Filipus mengatakan, petani ibu kota kebanyakan dipersulit memperoleh pinjaman bank. “Bank bilang kredit gampang, ada sekian triliun disiapkan. Tapi faktanya petani mau pinjam ke bank justru susah,” singgungnya. Jika dapat pinjaman pun kesulitan semakin bertambah. Pasalnya perbankan membebankan bunga pinjaman hingga 12 persen. Namun pemerintah membantu meringankan hingga lima persen. “Jadi petani tinggal bayar tujuh persen sisanya,” tambahnya. (Ina/nus)