Akhirnya Para Korban PHK Pertambangan Beralih ke UMKM

Akhirnya Para Korban PHK Pertambangan Beralih ke UMKM

SAMARINDA,bekantan.co - Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) turut andil mengurangi angka pengangguran terbuka di Kaltim. Bahkan, UMKM menjadi solusi bagi korban PHK perusahaan tambang batu bara.

Berdasarkan data yang dilansir Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kaltim, trend UMKM terus menggeliat. Total terdapat 459.893 UMKM yang terdaftar. Kepala Disperindagkop Kaltim Fuad Assadin menuturkan sektor UMKM termasuk dalam bidang industri yang menjadi perhatian pemerintah.

“Ini sektor informal sebagai penyangga bagi mereka yang PHK dari pertambangan batu bara,” terang Fuad. Dia pun membeberkan sebaran UMKM per kabupaten/kota. Samarinda termasuk kabupaten/kota dengan UMKM terbanyak di Kaltim. Jumlahnya adalah 133.036 UMKM, disusul Balikpapan dengan 61.926 UMKM. Kubar termasuk kabupaten/kota dengan UMKM terendah sebanyak 24.034 saja.

Fuad menjelaskan pesatnya perkembangan UMKM di Kota Tepian menunjukkan pesatnya persaingan di ibu kota. Bahkan jika dirinci lebih mendalam lagi dari jenis usaha UMKM yakni mikro, kecil dan menengah, Samarinda masih mendominasi. Untuk usaha mikro ada 79.420 unit, kecil 53.386 dan menengah 230 unit. Karena itu pihaknya menambahkan kini tengah fokus mengembangkan sektor UMKM ini.

“Program kami adalah mengembangkan dan memberdayakan usaha mereka,” tambahnya.

Namun bukan berarti mengelola UMKM ini mudah. Pasalnya beberapa jenis usaha pun ada yang gulung tikar. Fuad menjelaskan penyebabnya cuma dua. Pengusaha tidak tahu komoditas apa yang bakal laku diperdagangkan. Kedua, manajemen usaha yang buruk. Mengantisipasi hal itu pemprov pun membuat Peraturan daerah (Perda) 4/2015 tentang pemberdayaan UMKM. Di antara hal yang ditekankan adalah memberikan kemudahan bantuan modal bagi pengusaha serta berhak mengikuti pelatihan bisnis dan sebagainya. “Ada pula kredit usaha rakyat (KUR), pemberian bantuan mesin dan peralatan,” tambahnya. “Persoalan UMKM ini bukan dana tapi manajemen dan pilihan komoditas yang ingin dijual. Kalau komoditas tidak sesuai selera pasar dan manajemen usaha buruk, ini akan jadi masalah bagi mereka,” sambung Fuad.

Kendala lain adalah rendahnya kredit di perbankan bagi UMKM. Dia mengakuinya, namun bukan tanpa alasan. Di antaranya kurang sosialisasi dari perbankan sendiri. Namun alasan lebih realistis lantaran perbankan khawatir pinjaman tidak bisa dilunasi. Hal itu yang menyebabkan beberapa kredit menjadi macet. “Mungkin karena perbankan masih ragu. Kalau tidak dibayar akan jadi utang, itu yang ditakutkan,” terang Fuad. Karenanya sebagian pengusaha pun memilih menggunakan modal sendiri. Tidak salah katanya namun usaha akan berjalan lamban. “Para pengusaha yang tidak punya modal menurut saya kalau layak diberi pinjaman, ya dipinjamkan (modal, Red) saja,” tutupnya. (Ina/nus)