Aduhh, Premium Langka, Pertalite Naik

Aduhh, Premium  Langka, Pertalite Naik

 

SAMARINDA,bekantan.co - Harga BBM jenis Pertalite mengalami kenaikan. Meski tidak signifikan, namun dikhawatirkan berdampak pada kenaikan harga bahan pokok. Berdasarkan penelusuran Sapos, harga Pertalite yang semula Rp 7.550 per liter menjadi Rp 8.000 atau naik Rp 450. Kenaikan itu pun dibenarkan Humas Pertamina Kalimantan, Alicia.

Namun BBM jenis lain seperti premium, lanjutnya tidak mengalami kenaikan. Di samping itu, lanjut Alicia kenaikan, adalah hal yang wajar. “Per dua Minggu tanggal 1 dan 15 biasanya memang ada kenaikan harga. Ada perubahan harga per bulannya,” jelasnya Rabu (21/3/2018).

Tapi harga pun bisa berubah. Tidak mesti naik katanya. Dijelaskan Alicia, harga BBM jenis Pertalite pun bisa saja turun. Tergantung perkembangan dari harga minyak internasional. Sebagai gambaran tahun lalu, harga minyak mentah dunia masih di bawah USD 50 per barel. Awal tahun ini, harga merangkak naik menjadi USD 60 per barel. Itu pula yang menyebabkan harga Pertalite mendadak naik. Dan uniknya tren ini selalu terjadi setiap awal tahun.

Berdasarkan data Sapos, tahun lalu BBM dari berbagai jenis naik. Seperti Pertamax yang semula (2016) Rp 7.750 per liter menjadi 8.050 per liter. Di tahun yang sama Pertalite dari sharga Rp 7.250 per liter menjadi Rp 7.550. Pun demikian dengan Dex yang semula Rp 9.100 per liter menjadi Rp 9.400 per liter. Dexlite dari Rp 7.050 per liter menjadi Rp 7.350 perliter.

Hanya Premium yang tidak mengalami perubahan harga hingga kini, yakni Rp 6.450 per liter. “Pasokan masih normal, distribusi juga lancar. Cuma karena harga minyak internasional juga naik jadi sedikit berdampak,” terangnya. 

Pihaknya pun meminta agar publik tidak perlu panik. Perubahan harga katanya adalah sesuatu yang lumrah terjadi. “Memang seperti itu siklusnya. Bahan pokok saja bisa berubah harganya,” tutup Alicia. Sementara itu Pengamat Ekonomi Unmul, Chaerul Anwar mengutarakan kenaikan harga pasti berdampak ke sektor lain. Salah satunya harga bahan pokok. Memang untuk Premium tidak alami kenaikan karena masih disubsidi oleh pemerintah. Beda halnya dengan Pertalite. “Kalau naik biaya transportasi juga pasti naik,” jelasnya. Lagi pula Pertalite termasuk laku di pasaran ketimbang Premium yang oktannya lebih rendah. Codi, panggilan akrabnya, menjelaskan naik Rp 50 rupiah pun dampak terhadap harga bahan pokok pasti akan terasa. Asumsinya biaya transportasi akan meningkat. Karena kecenderungan menggunakan Pertalite lebih tinggi. Yang terjadi adalah efek domino. Di mana biaya transportasi naik, mau tidak mau untuk menutupi kerugian. Beberapa harga bahan pokok pun dinaikkan. “Ini memang buah simalakama. Kalau tidak dinaikkan dan disubsidi terus, APBN akan bengkak. Tapi jumlah kenaikan itu saya kira sudah termasuk jalan tengah,” tukas Codi.

 

Beberpa warga yang mengisi Pertalite pun sempat kaget. “Harganya mulai naik, siapkan saja duit lebih,” terang Fadil Hidayatul Fajri, salah satu warga. Ia pun tidak mengira harga Pertalite bakal naik di SPBU.

Wajar jika kenaikan Pertalite begitu meresahkan. Karena Pertalite sudah menggantikan posisi Premium sebagai bahan bakar utama kendaraan yang digunakan masyarakat umum. Maklum, BBM jenis Premium sulit didapatkan. Bahkan, sebagian besar SPBU sudah tidak menyediakan BBM jenis ini. “Kalau pun ada, antrenya panjang,” kata Hilman, seorang sopir angkot Trayek A yang sejak setahun terakhir selalu menggunakan Pertalite. (Ina/nus)