Adnan: Sebaiknya Tunda Dulu Kenaikan BMM Non Subsidi

Adnan: Sebaiknya Tunda Dulu Kenaikan BMM Non Subsidi

Warga Tarakan saat mengantre pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Jalan Mulawarman, Kelurahan Karang Anyar, Rabu (28/2/2018)

TARAKAN, bekantan.co - Sejak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi pada Sabtu (24/2/2018) pukul 00:00 Wita waktu setempat, sontak membuat kaget warga Tarakan karena saat ini masih ada yang belum mengetahui kenaikan harga BBM tersebut. Tentunya pro dan kontra masyarakat masih dirasakan terhadap kebijakan pemerintah pusat. Adapun yang mengalami kenaikan sebesar Rp. 300 yakni, Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex serta Solar Non Subsidi.

Saat dijumpai di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Umum (SPBU) di Jalan Mulawarman, Kelurahan Karang Anyar, Edi mengatakan baru mengetahui kenaikan harga BBM non subsidi dari media sosial , Selasa (27/2/2018) lalu. Ia menganggap, pemerintah pusat sengaja menutupi agar tidak dipublikasikan kepada masyarakat luas. 

"Ya kalau dipikir jarang ada yang beritakan, kayak sengaja ditutupi. Seharusnya sebelum dinaikkan (harga BBM) sudah dikasih tahu (warga)," keluhnya usai mengisi BBM, Rabu (28/2/2018).

Lanjut Edi, ia tidak mempermasalahkan kenaikan sebanyak Rp. 300 tersebut. Menurutnya, jika masih dalam skala ratusan rupiah adalah hal yang wajar. "Yang saya baca memang ada kenaikan harga minyak dunia. Saran saya pemerintah (pusat) juga selektif saat pengambilan kebijakan," katanya. 

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi II, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tarakan, Adnan Hasan Galoeng menyatakan, kebijakan kenaikan BBM non subsidi sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Mengingat, kedepannya dipastikan akan memberatkan masyarakat kalangan menengah ke bawah. Dalam arti lain, harga barang kebutuhan pokok tentu akan mengalami kenaikan. 

"Iyalah subsidi tidak naik, kan (BBM non subsidi) dipakai untuk kendaraan juga. Contoh, Tarakan yang kepulauan hanya bisa lewat udara dan laut. Kapal-kapal misalnya dari Surabaya kan pakai non subsidi. Mau engga mau kan jadi naik juga (ongkos)," paparnya.

Pria dari fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) kembali menegaskan, dampak lain akan ada pada kenaikan inflasi dan daya beli masyarakat untuk kebutuhan pokok ikut menurun. Seharusnya pemerintah pusat lebih berhati-hati untuk menaikkan harga BBM tersebut. Ditambah lagi, jelang memasuki bulan Ramadhan, yang serba mahal. "Sebaiknya pemerintah menunda dulu lah. Kami akui memang tren pasar harga minyak dunia juga naik. Prediksi APBN kita kan USD 50  per barel, tapi ini sudah sampai USD 70  kalau enggak salah," urainya.

Di sisi lain, Jr.SE Retail III Kalimantan Utara, Imam Bukhari menjelaskan, khusus di Tarakan sudah menerapkan tarif yang sama. Adapun kenaikan BBM hanya bagi non subsidi. Harga Pertamax Pertalite dan Solar non subsidi sebagaimana BB Khusus non subsidi, bukan ditentukan pemerintah. "Kalau untuk BBM Penugasan seperti Premium, minyak tanah, dan solar, baru (tarif) ditentukan lewat pemerintah," ungkapnya saat dihubungi melalui pesan Whats App.

Senada dengan Adnan Hasan Galoeng, Imam mengaku, kenaikan harga tersebut mengikuti harga minyak dunia. Hal tersebut sudah menjadi hukum pasar. Oleh sebab itu harga BBM berubah-ubah dengan waktu yang tidak diketahui, terkecuali BBM bersubsidi yang memang harganya dilindungi pemerintah.

"Ketika stok banyak, harga turun. Stok berkurang, harga naik. Konsumsi banyak, harga naik, sedangkan konsumsi turun, harga turun. Kalau Pertamax dan yang lainnya mengikuti perkembangan harga dunia," tegas Imam.

Untuk diketahui, sebelumnya pertamax dijual Rp. 8.600 per liternya, kini harganya naik menjadi Rp8.900 per liternya. Sementara untuk jenis Dexlite juga ada peningkatan. Jika sebelumnya seliternya dibanderol dengan harga Rp. 7.650 kini harganya Rp. 8.250. Sementara untuk jenis pertalite harga masih stabil di angka Rp. 7.800. (sas/nus)