20 Orang Perbulan Terkena HIV/AIDS, Virus Mematikan Mulai Hantui Samarinda

20 Orang Perbulan Terkena HIV/AIDS, Virus Mematikan Mulai Hantui Samarinda

SAMARINDA,bekantan.co -  Virus mematikan HIV (Human Immunodeficiency Virus) tengah menghantui Kota Samarinda. Bagaimana tidak, pertumbuhan virus ini kian masif. Tak tanggung-tanggung, virus ini menyasar ke semua usia. Ketika seseorang terinfeksi HIV ini bisa membuat seseorang mengalami AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). AIDS terjadi ketika HIV menyebabkan kerusakan serius pada sistem imun. Kondisi ini sangat kompleks dan bervariasi pada setiap orang.

Di Samarinda HIV dan AIDS ada sejak 1997. Terhitung sejak tahun itu hingga 2016 sebanyak 1.496 orang. Diantaranya 640 penderita HIV dan 856 penderita AIDS. Khusus 2016 sebanyak 225 orang yang sudah didiagnosa positif diantaranya penderita HIV 120 orang dan AIDS 205 orang. Sementara 2017 hingga Agustus tercatat sudah 166 penderita HIV/AIDS. 7 diantaranya sudah meninggal dunia. Hingga akhir tahun penderita virus ini berpotensi meningkat. Virus mematikan ini sudah menyebar di 10 Kecamatan dan 59 kelurahan.

Tidak hanya Samarinda, virus yang belum ditemukan obatnya ini juga menyebar di 10 kabupaten/kota di Kaltim. Totalnya ada 4.425 pengidap HIV/AIDS. 1.030 orang diantaranya sudah meninggal dunia. Pengelola Program Dan Monitoring Evaluasi Komisi Penanggulan AIDS (KPA) Samarinda, Muhammad Basuki menuturkan meskipun jumlah penderita yang diidentifikasi positif tiap tahunnya fluktuatif, tapi dari persentasenya menunjukan ada trend kenaikan dari tahun ke tahun.

“Dalam sejarahnya total penderita tertinggi pada 2016 lalu yakni mencapai 225 orang. Ini yang sudah mendapat tindakan medis. Belum lagi bagi mereka yang terkena namun belum didiagnosa. Tidak menutup kemungkinan di tahun ini atau seterusnya akan bertambah. Karena ada trend kenaikan setiap tahunnya,” ungkapnya saat ditemui Sapos di kantornya, Rabu (28/3/2018).

Untuk kisaran usia penderita, Basuki menyebut lebih banyak menyerang mereka yang berusia produktif yakni 25 - 34 tahun. Persentasinya mencapai 48 persen. Sementara usia 16-24 tahun sekitar 21 persen. Kemudian usia 35-45 tahun sekitar 15 dan sisanya berusia 45 tahun keatas dan anak atau bayi yang terkena imbas dari ibu atau ayahnya yang sudah positif.

“Rata-rata setiap bulannya kurang lebih 20 orang mengidap HIV/AIDS. Laki-laki lebih mendominasi sekitar 53 persen. Selebihnya di derita perempuan,” tutur dia.

Untuk penyebab, beber Basuki ada dua faktor yang cenderung mendominasi yakni penggunaan jarum suntik dan seks bebas. Dari dua faktor itu, lebih besar karena seks bebas atau gonta-ganti pasangan seks. Menurut data KPA, penderita terbesar yakni pelanggan yang menggunakan jasa seks yakni 70 persen. Sisanya penggunaan jarum suntik, wanita pekerja seks komersial, dan hubungan laki dengan seks laki (LSL).

Untuk penanganan, pihaknya bersama instansi terkait baik pemerintah maupun swasta sedang bergerak melakukan upaya preventif (pencegahan). Upaya tersebut meliputi edukasi dan menyisir kelompok-kelompok yang dianggap berpotensi untuk dilakukan test agar segera ada pengobatan.

“Karena penderita HIV/AIDS harus di cari atau dibujuk untuk test medis. Kalau tidak, maka kita tidak tahu. Karena virus itu bekerja hingga 10 tahunan. Sejauh ini yang bisa diidentifikasi paling sudah sakit parah masuk rumah sakit baru ketahuan. Kalau masih sehat sulit di identifikasi,” papar dia.

Basuki mengaku sedang konsen di wilayah pelabuhan dengan menggandeng KSOP untuk melakukan edukasi sekaligus identifikasi diwilayah tersebut karena diduga sangat berpotensi.  “Disana banyak laki-laki yang kita duga berpotensi karena perilaku,” ungkapnya.

Selain itu ada pembinaan fungsi kelembagaan baik pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan kemampuan dengan memberikan pembekalan. Sementara untuk lembaga kesehatan lebih banyak menyorot ke tindakan medis. “Kalau ada yang sudah teridentifikasi dini kita langsung kasih obat Antri Retropirol (ARP) menekan pertumbuhan virus ini. Makanya sebaiknya segera memeriksa diri untuk mendeteksi sejak dini,” pungkasnya.  

Dia juga mengimbau supaya masyarakat lebih mencari pengetahuan tentang bahaya HIV/AIDS agar tidak mudah tertular. Begitu juga dengan proses penularannya agar tidak mudah percayai stigma bahwa penderita HIV/AIDS harus dijauhi.  “Penularan itu harus seks bebas atau jarum suntik. Kalau berhadapan saja sebetulnya tidak masalah. Jadi stigma menjauhi penderita HIV/AIDS itu tidak benar,” tutupnya. (Ina/nus)